MANAGING THE RISK OF BUSINESS ETHICS AND COMPLIANCE (TEORI ORGANISASI)

• PENDAHULUAN

Untuk memulai suatu penelaahan yang baik antara hubungan etika, bisnis dan resiko setidaknya di pahami dahulu apakah suatu perusahaan benar – benar telah berusaha untuk menerapkan etika ke dalam bisnis. Secara pengkajian sering kali terjadi kontradiksi antara etika bisnis yang diterapkan oleh perusahaan, dimana didalam suatu pertentangan antara etika dan minat pribadi yang berorientasi pada pencarian keuntungan. Ketika terjadi konflik antara etika dan keuntungan, maka bisnis lebih memilih keuntungan ketimbang etika, sehingga akan menimbulkan suatu konsekuensi resiko dalam bisnis tersebut. Di dalam suatu tindakan etis setidaknya strategis binis jangka panjang yang dilakukan oleh suatu perusahaan lebih tertuju pada sebuah pandangan bagaimana melakukan bisnis dengan sebuah etika yang benar, sehingga resiko – resiko yang timbul di dalam menjalankan sebuah bisnis akan dapat terminimalisir dengan baik.

Adanya aktivitas di dalam suatu lingkungan organisasi yaitu perusahaan di dalam segala sektor baik itu publik dan bisnis akan senantiasa mengalami perubahan dalam tindak lanjut pertumbuhkembangan lingkungan internal dan eksternal suatu perusahaan. Tuntutan perubahan dan peningkatan kapabilitas di dalam perusahaan akan memunculkan suatu resiko dan sekaligus peluang bagi perusahaan tersebut. Resiko yang timbul kemungkinan terjadi karena adanya kegagalan dari peraturan akan etika bisnis yang ditetapkan oleh perusahaan tersebut, sehingga akan mengakibatkan kegagalan dari tercapainya tujuan dan misi dari perusahaan. Resiko yang timbul tersebut seharusnya dapat dikelola dengan optimal sehingga akan dapat memunculkan suatu peluang tersendiri bagi perusahaan. Resiko itu sendiri dapat berupa resiko asuransi, resiko teknologi, resiko keuangan, resiko pemasaran, dan resiko lingkungan. Banyak cara yang dilakukan untuk mengelola resiko tersebut agar menjadi sebuah peluang yaitu dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang terbatas yang dimiliki oleh perusahaan, menerapkan standar etika bisnis yang sesuai aturan yang dikelola oleh perusahaan, demikian juga dengan pengelolaan manajemen yang baik sehingga akan diperlukan adanya evaluasi yang periodik melalui aktifitas pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan.

1. Etika dan Bisnis

Pada dasarnya etika adalah suatu penelaahan standar moral yang tujuannya di tetapkan oleh suatu penalaran yang baik sehingga pencapaian dari etika itu sendiri akan mencapai kesimpulan yang baik terhadap moral yang benar atau salah, dan moral yang baik atau jahat.

Etika dalam melakukan bisnis, penerapan moral yang benar dan salah itu sendiri memiliki tingkat konsentrasi yang patut diperhitungkan sendiri di dalam menerapkan sebuah kebijakan, institusi dan perilaku bisnis. Etika bisnis memiliki standar formal tersendiri dimana penerapannya dilakukan dengan sistem dan organisasi yang terorganisir sehingga dapat digunakan oleh masyarakat modern dalam memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa yang telah ditetapkan di dalam suatu organisasi perusahaan.

K.Bertens (2000: 379) mengutip sebuah pernyataan De George yang menegaskan: “morality is the oil as well as the glue of society, and , therefore, of business”, dimana minyak pelumas, karena moralitas memperlancar kegiatan bisnis dan semua kegiatan lain dalam masyarakat, Lem, karena moralitas mengikat dan mempersatukan orang-orang bisnis, seperti juga semua anggota masyarakat lainnya.

Sehingga di dalam menyatukan antara bisnis dan sebagian kegiatan didalam setiap perusahaan dibutuhkan suatu kejujuran dari masing-masing individu, agar kepercayaan yang ditanamkan menjadi sebuah tolak ukur atau syarat yang mutlak dalam pembangunan sebuah moralitas dalam norma-norma yang mengikat sebuah kegiatan bisnis. Sebuah aturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan setidaknya memiliki tujuan yang mampu dipertanggungjawabkan secara moral oleh setiap pekerja di dalam perusahaan itu.

Setidaknya setiap organisasi bisnis mengikuti standar moral yang akan mampu dipertanggungjawabkan karena memiliki kewajiban moral dalam mentaati setiap peraturan formal yang terkait dengan moralitas di dalam berbisnis. Oleh karena itu jika didalam suatu perusahaan terjadi tindakan kekeliruan, maka kekeliruan itu dapat disebabkan oleh pilihan tindakan yang dilakukan oleh masing-masing individu (pekerja) di dalam perusahaan itu, atau jika perusahaan bertindak secara moral, maka hal itu dapat disebabkan oleh pilihan individu (pekerja) dalam perusahaan tersebut dalam melakukan tindakan secara moral yang disebabkan oleh pilihan individu (pekerja) dalam perusahaan secara bermoral.

Setiap individu memiliki perbedaan keyakinan etis, dimana tindakan secara moral benar atau salah itu tergantung dari sudut pandangan masyarakat itu sendiri. Pandangan bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar yang ditetapkan atau diterapkan terhadap perusahaan atau orang dari semua masyarakat, dan secara moral harus mengikuti standar moral yang berlaku di dalam perusahaan dimana dia bekerja. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan kebudayaan dari setiap masyarakat, dimana pandangan dari keyakinan moral itu sendiri berbeda-beda sehingga seringkali mengabaikan keyakinan moral dari kebudayaan yang telah ditetapkan sesuai standar moral yang ada di dalam setiap perusahaan masing-masing.

Di dalam suatu perusahaan Etika seharusnya diterapkan dalam bisnis dengan menunjukkan bahwa etika mengatur semua aktivitas manusia yang bekerja, dan dikarenakan bisnis merupakan aktivitas manusia maka etika hendaknya dapat berperan serta di dalam bisnis yang dilakukan. Bisnis merupakan aktivitas kooperatif yang eksistensinya mensyaratkan perilaku etis sehingga standar minimal etika dalam berbisnis dapat lebih diterapkan secara konsisten. Setiap bisnis tidak dapat bertahan hidup tanpa etika dimana setiap kepentingan bisnis yang paling utama adalah mempromosikan perilaku etika kepada anggota pekerjanya secara khusus dan masyarakat luas pada umumnya. Etika setidaknya diterapkan dalam bisnis dengan menunjukkan sebuah sikap etika yang konsisten dengan tujuan bisnis, khususnya dalam mencari keuntungan / profit.

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam memahami etika bisnis secara perspektif dari masing-masing individu dimana secara umum berfokus kepada kepentingan pribadi secara moral. Suatu tindakan moral yang tinggi yang ditetapkan dalam sebuah tingkat kebenaran, kejujuran dan keadilan akan sangat jelas diterapkan ke dalam suatu lingkungan global yang kompleks. Didalam suatu perusahaan yang melakukan tindakan bisnis, nilai-nilai etika sebaiknya diterapkan secara individu dari masing-masing pekerja dengan suatu pembangunan sikap moral yang baik pula. Dengan begitu pekerja akan dapat melakukan pengontrolan setiap keputusan yang telah ditetapkan secara pemahaman etika bisnis yang diterapkan oleh perusahaan, sehingga nilai-nilai organisasi akan mampu mencegah seseorang dalam melakukan tindakan yang kurang etis.

Aspek etika yang dimiliki oleh setiap pekerja di dalam setiap perusahaan diharapkan akan dapat menunjang setiap bentuk kehidupan mereka ke arah lingkungan yang lebih baik, sesuai dengan konsep yang telah diajarkan di dalam kehidupan tentang pemahamam holistik akan etika bisnis.

2. Peranan Stakeholders dalam Resiko Etika Bisnis

Di dalam suatu lingkungan bisnis perusahaan tentu saja ada beberapa orang yang memangku kepentingan di dalam mengelola manajemen di dalam perusahaan yaitu Stakeholders. Stakeholders memiliki kepentingan yang patut dihargai di dalam lingkungan bisnis, jika kepentingan stakeholders tidak dihargai maka hal ini akan menimbulkan hal yang menyakitkan bagi para pemegang saham, para petugas dan para direktur. Dan tentu saja dapat dimaklumi bahwasanya suatu bisnis atau pekerjaan yang dilakukan tidak akan mencapai sasaran strategis jangka panjang jika tanpa dukungan dari stakeholders, seperti pemegang saham, karyawan, pelanggan, kreditur, para penyalur, pemerintah, masyarakat dan para aktifis. Dukungan untuk suatu bisnis secara umum sangat tergantung pada kredibilitas, yaitu kedudukan stakeholders dalam komitmen perusahaan, reputasi perusahaan, dan kekuatan dari keuntungan kompetitif, kepercayaan, yang semuanya bergantung pada nilai – nilai yang mendasari aktivitas perusahaan.

Suatu cara lain lagi untuk mendekati tujuan perusahaan adalah melukiskan tujuan itu sebagai the stakeholders benefit, istilah ini mirip dengan stockholders, tetapi justru merupakan semacam kritik implisit terhadap tendensi untuk terlalu mengagungkan pentingnya pemegang saham atau pemilik dari suatu perusahaan. Yang dimaksudkan dengan stakeholders adalah orang atau instansi yang berkepentingan dengan suatu bisnis atau perusahaan.

R. Edward Freeman menjelaskan :
“Stakeholdes sebagai individu-individu dan kelompok-kelompok yang dipengaruhi oleh tercapainya tujuan-tujuan organisasi dan pada gilirannya dapat mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan tersebut. “

Stakeholders adalah semua pihak yang berkepentingan dengan kegiatan suatu perusahaan. Stockholders, tentu termasuk didalam stakeholders. Para pemegang saham sebagai pemilik perusahaan pasti berkepentingan dengan sepak terjang sebuah perusahaan. Kalau perusahaan emperoleh laba, para pemegang saham mendapat dividen. Mereka jelas membeli saham dengan harapan aka meraih untung, namun demikian, di samping para pemegang saham ada banyak pihak lain yang berkepentingan juga dengan aktivitas suatu perusahaan. Misalnya : para manajer yang memimpin suatu perusahaan, para karyawan, para pemasok, para konsumen, masyarakat di sekitar pabrik atau lokasi perusahaan, pemerintah, lingkungan hidup, dll.

Kadang-kadang stakeholders dibagi lagi atas pihak berkepentingan internal dan eksternal. Pihak berkepentingan internal adalah orang dalam dari suatu perusahaan, orang atau instansi yang secara langsung terlibat dalam kegiatan perusahaan, seperti pemegang saham, manajer, dan karyawan. Pihak berkepentingan eksternal adalah orang luar dari suatu perusahaan, orang atau instansi yang tidak secara langsung terlibat dala kegiatan perusahaan, seperti para konsumen, masyarakat, pemerintah, lingkungan hidup. Tetapi garis pemisah antara stakeholders internal dan eksternal tidak selalu bisa ditarik dengan tajam. Misalnya, para pemasok pada umumnya bisa digolongkan antara pihak berkepentingan eksternal. Tetapi jika ada pemasok yang biarpun menjadi perusahaan sendiri hanya memasok barang untuk satu perusahaan saja, ia sebenarnya termasuk pihak berkepentingan internal juga. Demikian pula warung-warung kecil yang menyediakan makanan untuk karyawan dan perusahaan tertentu. Nasib mereka juga seluruhnya tergantung pada nasib perusahaan. Jka perusahaan menghentikan kegiatannya, mereka semua kehilangan sumber pendapatannya.

Paham stakeholders ini membuka perspektif baru untuk mendekati masalah tujuan perusahaan. Kita bisa mengatakan bahwa tujuan perusahaan adalah manfaat semua stakeholders. Sekaligus juga di sini kita mempunyai kemungkinan baru untuk membahas segi etis dari suatu keputusan bisnis. Misalnya, tidak etis kalau dalam suatu keputusan bisnis hanya kepentingan para pemegang saham dipertimbangkan, tapi juga kepentingan dari semua pihak lain, khususnya para karyawan dan masyarakat di sekitar pabrik.

Para stakeholders biasanya mengharapkan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan akan lebih kepada bagaimana menghargai nilai dan kepentingan secara lebih luas, seperti penghargaan untuk nilai dan kepentingan stakeholders dalam menentukan kedudukan etika dan keberhasilan dari perusahaan. Oleh karena itu ada konsekuensi yang timbul bagi para pemimpin perusahaan yaitu mereka diharapkan dapat mengelola perusahaan secara etis, serta dapat mempertanggung -jawabkan seluruh kegiatan perusahaan kepada stakeholders secara transparan dan dengan cara yang etis pula. Jika di dalam perusahaan mengalami kegagalan dalam sistem pengendalian maka akan sulit untuk mengukur semua resiko secara baik, baik berupa sistem keuangan perusahaan yang akan menjadi tidak konsisten, sehingga para stakeholders akan merasa bosan dengan etika dan moral pelayanan yang kurang baik dan tidak menyenangkan yang telah ditetapkan oleh perusahaan, sehingga hal ini akan mengurangi adanya potensi dari suatu perusahaan.

Sistem pelaksanaan pengelolaan perusahaan yang sehat akan menjaga kredibilitas perusahaan dihadapan para shareholders dan stakeholders. Oleh karena itu diharapkan perusahaan dapat mengelola resiko-resiko yang timbul di dalam pengelolaan manajemen sehingga resiko itu akan menjadi suatu peluang untuk menjadikan perusahaan menjadi lebih kuat dan mampu berkembang di bidang bisnis yang ditekuninya. Dan diharapkan hal ini akan menjadikan struktur dan proses yang di terapkan oleh perusahaan akan dapat digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis perusahaan ke arah peningkatan dan pertumbuhan bisnis serta akuntabilitas perusahaan.

Seorang pemimpin perusahaan harus dapat bijaksana dalam menentukan bisnis yang akan dikembangkannya, layaknya kehidupan yang tidak pasti, begitu juga dengan bisnis. Bisnis adalah sebuah proses yang tidak pasti dan apapun dapat terjadi di dalam menjalani proses bisnis itu. Jadi, ketidakpastian itu adalah sebuah proses nyata yang harus dihadapi dan tidak boleh diingkari bahwa eksistensinya oleh siapapun di dalam lingkungan internal sebuah perusahaan. Biasanya sifat resiko bisnis yang akan dihadapi ini terkadang tidak terukur dan tidak teridentifikasi dengan jelas wujudnya, tetapi dengan menetapkan aturan dan etika dalam berbisnis diharapkan kekuatan itu dapat melumpuhkan roda-roda resiko bisnis yang akan mengejar setiap perusahaan. Dan para Stakeholders sangat berharap para pemimpin perusahaan dapat mengatasi resiko yang timbul tersebut dengan berperan aktif dalam perwujudan kode etik di dalam perusahaan.

Penerapan etika bisnis dan etika dalam bekerja di sebuah perusahaan dapat selalu dipastikan oleh Stakeholders dengan memiliki komitmen dengan para pemimpin perusahaan. Diharapkan dengan komitmen ini, para pemimpin perusahaan akan berupaya agar sikap dan perilaku yang diterapkan di perusahaan dalam berhubungan mitra, relasi bisnis, pelanggan dan masyarakat dapat terwujud dengan prinsip-prinsip etika bisnis. Sedangkan prinsip etika bekerja dapat diterapkan dan diberlakukan kepada karyawan di dalam berhubungan dengan para pihak internal dan eksternal di dalam perusahaan. Nilai – nilai etika dan norma-norma yang berlaku dalam berbagai masalah bisnis yang timbul dalam sebuah perusahaan baik buruknya akan mempengaruhi sikap dan kesejahteraan para Stakeholders. Dan hal ini yang dijadikan sebuah senjata untuk para Stakeholders dan pemimpin perusahaan untuk memenuhi dan menjalankan setiap norma dan etika bisnis yang juga memiliki nilai budaya dalam pengoperasian bisnis yang beretika.

3. Etika Organisasi

Untuk dapat memahami sifat dari organisasi dalam menerapkan nilai-nilai etika maka ada tiga sumber utama yang mempengaruhi nilai – nilai etika organisasi, yaitu :
1. Etika Sosial
Etika sosial adalah suatu etika yang berbicara mengenai kewajian dan hal, dimana pola dan perilaku manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan sesamanya. Hal ini tentu saja sebagaimana hakikatnya manusia yang bersifat ganda, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dimana etika indidual dan etika sosial saling berkaitan erat. Bahkan di dalam artian tertentu sangat sulit untuk dilepaskan dan dipisahkan satu dengan lainnya. Hal ini dikarenakan kewajiban seseorang terhadap dirinya berkaitan langsung dengn banyak hal yang mempengaruhi pula kewajibannya terhadap orang lain, dan demikian pula sebaliknya.
2. Etika Professional atau Grup
Etika Professional adalah merupakan aturan-aturan dan nilai-nilai moral yang diterapkan pada sekelompok orang yang kemudian digunakan untuk mengontrol mereka dalam melakukan tugas atau dalam menggunakan sumber daya lingkungan yang ada. Biasanya pula professional ini dapat dipahami sebagai suatu bentuk kualitas yang wajib dipunyai oleh setiap individu yang baik. Adapun ciri – ciri seseroang yang memiliki sikap profesional adalah :
a. Memiliki ketrampilan yang tinggi dalam suatu bidang tertentu.
b. Memiliki ilmu pengetahuan serta kecerdasan dalam menganalisis suatu permasalahan yang timbul dan peka terhadap suatu situasi secara cepat dan tepat serta cermat dalam pengambilan sebuah keputusan yang terbaik.
c. Memiliki sikap berorientasi ke arah depan sehingga mampu untuk mengantisipasi perkembangan lingkungan.
d. Memiliki sikap mandiri berdasarkan sebuah keyakinan dan kemampuan dalam menghargai pendapat orang lain.
3. Etika Individu
Etika Individu yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap diri sendiri. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam setiap etika invidual adalah prinsip integritas pribadi, yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai peribadi moral. Di dalam Etika Individu sebuah objek dapat mempengaruhi baik atau buruknya sebuah perilaku di dalam masyarakat, dimana hubungan antara visi dan tindakan yang dilakukan akan menghasilkan sebuah hasil langsung yang nyata dan bilamana sudah menjadi sebuah keyakinan individu yang penuh maka tindakan yang dilakukan pun tidak membutuhkan sebuah persuasi.

4. Kasus Enron dan Daewoo dalam Etika Bisnis

Para stakeholder selalu mengharapkan bahwasanya aktivitas perusahaan akan selalu menghargai setiap nilai dan kepentingan mereka. Secara luas dapat dipaparkan seperti penghargaan akan nilai dan kepentingan stakeholder dalam menentukan kedudukan etika dan keberhasilan dari suatu usaha. Munculnya sebuah rezim pengelolaan dan tanggung jawab untuk bisnis dan pekerjaan telah menjadi jauh lebih memperhatikan kepentingan para stakeholder. Pimpinan perusahaan dan eksekutif lainnya adalah beberapa yang sering melayani konflik kepentingan stakeholder secara langsung, dan harus peduli terhadap harapan baru publik atas bisnis dan organisasi yang berkembang, dan harus bisa mengelola resiko yang akan timbul nantinya. Lebih dari hanya sekedar melayani, kepedulian juga harus dikombinasikan dengan nilai tradisional yang menyertakan mereka dalam suatu rangka pengambilan keputusan yang etis dalam setiap tindakan.

Seperti halnya dalam kasus dimana kredibilitas, reputasi, keuntungan kompetisi dari pasar modal, organisasi, manajemen, profesionalisme dan pekerjaan mengalami suatu kegagalan. Hal ini di mulai dengan kolapsnya raksasa perdagangan energi, yaitu Enron Corporation, yang pernah menjadi korporasi ketujuh terbesari di Amerika Serikat. Saham Enron yang anjlok hebat, sehingga menyeret para auditornya bersama- sama pada tahap kegagalan yang sangat ironis. Kasus Enron semakin keras karena melinatkan sejumlah politisi – politis penting, dimana keterlibatan keuangan Enron telah sampai menyentuh bagian – bagian yang tak terselami di dalam dunia Politisi di Amerika Serikat dan menyeret banyak kalangan. Derita ini semakin diperburuk dengan tuduhan sensasional bahwa karyawan enron menutup – nutupi keburukan Enron dan menghapus E-Mail dan dokumen- dokumen computer yang sangat penting lainnya. laporan ini bukan saja jatuh ketangan pers tetapi juga ke Department Of Justice yang mulai melakukan penyidikan terhadap Enron. Akhirnya hal ini menimbulkan sebuah argumen dimana Enron sebuah perusahaan fundamental yang membawa suara rendah bagi pihak pasar pada tingkat level yang terendah, karena Enron mengelola sistem akuntansi dan klaim palsu dari potensi pertumbuhan dunia bisnis yang baru. Dan munculnya orang – orang yang sudah tidak loyal lagi terhadap Enron mengakibatkan sistem di Enron semakin terpuruk dan membawa Enron pada tahap kegagalan yang sangat kompleks.

Sepertinya juga pada kasus Daewoo, dimana bisnis dengan sebuah sistem penipuan dan penggelapan menjadi sebuah kehancuran dan kegagalan bagi bsinis terbesar di Korea Selatan ini. Sebuah bisnis yang diawali dengan tindakan yang tidak etis sehingga menyulut ketidakpercayaan para Stakeholder terhadap bisnis Daewoo dan menyebabkan kebangkrutannya. Bisnis Daewoo yang merugikan pemerintahan Korea Selatan hingga milyaran Dollar ini menyebabkan pihak pemerintah Korea Selatan bertindak tegas terhadap pimpinan Daewoo yang melarikan diri akibat tidak sanggup menanggung beban keterpurukan Daewoo.

Hal ini mirip dengan Enron dimana, budaya ketidakjujuran dan ketidaketisan di dalam membangun sebuah dunia bisnis menjadi faktor utama kehancuran dua perusahaan ini, yang menyebabkan para karyawan dan Stakeholder menjadi cukup kecewa dengan kinerja mereka. Pengambilan resiko dengan budaya perusahaan yang mendorong kompleksitas keuangan yang tidak dinamis menyebabkan penciptaan lingkungan di dua perusahaan ini menjadi sangat tidak baik, sehingga merusak citra perusahaan. Oleh karena itu adanya suatu budaya perusahaan yang mendukung setiap tindakan etis dalam melakukan bisnis akan menghasilkan sebuah kepuasan bagi setiap orang baik itu karyawan maupun Stakeholder pada khususnya.

• KESIMPULAN

Penggunaan suatu kerangka organisasi dalam sebuah keputusan akan membantu dan menghubungkan dunia bisnis dengan masyarakat, organisasi, dan kepentingan individu secara dinamis. Sikap kritis yang ditanamkan akan menjadi bagian penting dari sebuah etika pengambilan keputusan. Selain itu pula pengembangan karakter pribadi juga sangat penting, dimana akan menghubungkan sikap kompetensi dasar dalam memahami resiko dan pendekatan untuk mengelola dan mematuhi Etika dalam setiap konteks organisasi yang rumit sekalipun. Budaya nasional dan sistem hukum yang diterapkan secara dinamis dalam sebuah wilayah lingkungan bisnis akan dapat mempengaruhi setiap pengambilan keputusan yang etis.

Etika Bisnis dalam organisasi membutuhkan sebuah kepemimpinan yang berbasis nilai – nilai atas manajemen yang baik, dimana sebuah tindakan yang mencakup perencanaan dan pelaksanaan standar dalam melakukan kerja sesuai dengan sikap yang mendorong upaya untuk peningkatan organisasi dalam kinerja etika. Meskipun nilai – nilai pribadi yang penting di dalam etika pengambilan keputusan tersebut, hanya merupakan salah satu komponen yang membimbing keputusan, tindakan dan kebijakan - kebijakan organisasi yang telah ada.

Segala bentuk beban yang berkaitan dengan perilaku etika dalam organisasi dan nilai – nilai tradisi yang ada, tidak hanya masing – masing individu saja yang membuatnya, tetapi kemampuan sebuah perusahaan untuk merencanakan dan menerapkan standar etika bisnis tersebut bergantung pada struktur dan kegiatan yang dibuat oleh perusahaan untuk mencapai tujuan – tujuan etika secara efektif dan efisien. Enron dan Daewoo telah memberikan sebuah contoh yang sangat baik dimana perusahaan tersebut mengalami kegagalan dalam menyediakan kepemimpinan yang etis, yang diperlukan untuk menghindari sebuah kelakuan yang merusak reputasi perusahaan, dan akan menciptakan sebuah bencana yang besar bagi pihak – pihak yang berkepentingan dikarenakan tidak dilaksanakannya sebuah etika di dalam melakukan bisnis, yang akhirnya mengurangi tingkat kepercayaan bagi para Stakeholder.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K (2000), Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Ferrell, O.C. and Linda (2005), Journal Managing the Risk of Business Ethics and Compliance, University of New Mexico.

Jones, Garet R (2007), Organizational,Theory,Design,and Change, 7th ed., New Jersey: Pearson International Edition.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>